BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan hal
yang tidak terpisahkan dalam system ketenagakerjaan dan sumber daya
manusia. Keselamatan dan kesehatan kerja tidak saja sangat penting dalam
meningkatkan jaminan social dan kesejahteraanpara pekerjanya, tapi juga berdampak
positif atas keberlanjutan produktivitas kerjanya.Kendatipun
era manajemen K3 telah dimulai dan diterapkan sejak tahun 1950-an,kecelakaan
dan penyakit akibat kerja masih menjadi permasalahan besar sampai
saat ini.
Di Indonesia sendiri, permasalahan kesehatan dan keselamatan
kerja masih terlihat mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh
PT. Jamsostek (Persero) dalam periode 2002-2005 terjadi lebih dari 300
ribu kecelakaan kerja, 5000 kematian, 500 cacat tetap dan kompensasi lebih dari
Rp. 550 milyar (DK3N, 2007).Dari fakta tersebut memperlihatkan
masih rendahnya kualitas K3 dalam implementasinya di
lapangan. Dengan demikian, diperlukan sebuah langkah prioritas
dalam penuntasan permasalahan dari sektor yang paling bermasalah.
Di dalam lingkungan kerja terdapat faktor-faktor yang menyebabkan beban
tambahan dan dapat menimbulkan gangguan bagi tenaga kerja. Faktor
tersebut antaralain faktor fisik, faktor kimia, faktor biologi, faktor
fisiologis, faktormental psikologis. Tekanan panas merupakan salah satu faktor
fisik yang dalam keadaan tertentu dapat menimbulkan gangguan, oleh
karena itu iklim kerja atau cuaca kerja harus dibuat senyaman mungkin dengan
mengatur dan mengendalikan suhu suhu udara, udara dan kecepatan udara untuk
meningkatkan produktivitas dan mengurangi tekanan panas.
Negara Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis, dengan ciri
utamanyaadalah suhu dan kelembaban yang tinggi. Dalam Industri atau perusahaan
keadaan yangmenunjukkan suatu suhu dan kelembaban lingkungan biasa disebut
dengan iklim kerja.Iklim kerja merupakan salah satu unsur dari pekerjaan yang
mempunyai peran pentingdalam proses produksi dan tidak boleh kita menganggap
remeh tentang iklim kerja.Pekerjaan dengan suhu tinggi memerlukan penerapan
teknologi dan pengaturan iklim kerja yang baik dalam proses
produksi maupun proses distribusinya. Dengan lingkungan kerja yang nyaman
maka semangat kerja akan meningkat, dan produktivitasmeningkat.
Di industri atau perusahaan di indonesia sekarang ini banyak yang belum
sadartentang iklim kerja. Kondisi seperti ini seharusnya sudah menjadi
perhatian, karenaiklim kerja yang baik akan mempengaruhi kenyamanan dan
produktivitas, misalnyaiklim kerja yang panas dapat mempengaruhi kondisi
pekerja, karena dengan panas yangdidukung dengan kondisi lingkungan yang tidak
mendukung maka pekerja akan cepatkehilangan energy (daya tahan tubuh) dan
akan berimbas pada semangat bekerja. Panasmerupakan sumber penting dalam
proses produksi maka tidak menutup kemungkinanpekerja dapat terpapar langsung.
Jika pekerja terpapar dalam jangka waktu yang lamamaka pekerja yang terpapar
panas dapat mengalami penyakit akibat kerja yaitu menurunnya daya tahan tubuh
dan berpengaruh terhadap timbulnya gangguan kesehatansehingga berpengaruh
terhadap produktivtas dan efisiensi kerja. dan juga harusmemperhatikan Nilai
Ambang Batas (NAB) yang mempengaruhi ketahanan tubuh.
Pada saat seseorang bekerja di lingkungan suhu ekstrim panas maka suhu
intitubuhnya akan mulai naik dan keringat diproduksi oleh tubuh dengan tujuan
untuk melepaskan panas berlebih di tubuh melalui proses penguapan keringat.
Jika cairantubuh yang keluar dari tubuh yang berupa keringat tersebut tidak
digantikan maka tubuhtidak akan mampu memproduksi keringat kembali menyebabkan
temperatur inti tubuhakan terus meningkat yang kemudian akan menyebabkan
timbulnya masalah yangserius (OSH Departement of Labor Wellington New
Zealand,1997). Hampir seluruhorgan tubuh dapat bekerja secara maksimal pada
temperatur yang relatif konstan sekitar 37 0 C. Temperatur
tubuh diluar temperatur normal, baik akibat kondisi lingkunganmaupun
aktivitas fisik dapat menyebabkan kerusakan jaringan-jaringan tubuh
(King,2004).Penelitian yang dilakukan oleh Andrey Livchak yang berjudul “The Effect
of Supply Air Systems on Kitchen Thermal Environment” diperoleh hasil
bahwa faktor suhu berpengaruh terhadap produktivitas. Jika suhu pada ruangan
meningkat 5,5 o C diatas tingkatan nyaman akan menyebabkan penurunan
produktivitas sebesar 30%. Penelitian lain oleh Ora Ola Lina Manurung yang
berjudul “Identifikasi Bahaya Paparan Panas Pada Pekerja Di Lingkungan Kerja
Industri Strategis PT X” diperoleh hasil bahwa kontribusi paparan panas
menimbulkan gangguan terhadap kesehatan pekerja adalah untuk penurunan tekanan
darah sistolik 35%, penurunan tekanan diastolic 36%dan kenaikan suhu tubuh
adalah 89,2%. Penelitian Borghi pada pekerja pabrik gelasyang terpapar panas
dengan suhu 29-31o C WBGT di lingkungan kerja selama lebihdari 5 tahun
menemukan batu asam urat di saluran kemih pada sekitar 38,8% pekerjayang
mengeluh pegal atau nyeri di daerah pinggang dan/atau rasa panas atau sakit
saatbuang air kecil. Batu asam urat di saluran kemih akan menimbulkan beberapa
masalah;selain rasa nyeri, bila berlangsung lama serta tidak ditangani secara
seksama, dapatmenjadi salah satu faktor penyebab gangguan fungsi ginjal.
Akibatnya selain merugikanpekerja, juga perusahaan secara keseluruhan;
produktivitas kerja akan menurun, danbiaya kesehatan pekerja akan meningkat.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang
diatas maka diperoleh rumusan masalah yaitu:
1. Bagaimanakah gambaran iklim kerja
lingkungan industri pada Coca Cola Amatil Indonesia dan PT Sinar Sosro?
2. Masalah iklim kerja
apakah yang terdapat pada Coca Cola Amatil Indonesia dan PT Sinar Sosro?
3. Apakah pengendalian yang dilakukan untuk
mengatasi masalah yangberkaitan dengan iklim kerja Coca Cola Amatil Indonesia
dan PT Sinar Sosro?
C. Tujuan
1. Tujuan
UmumDidapatkannya gambaran bahaya paparan panas di tempat kerja padabagian
produksi.
2. Tujuan Khusus
a. Didapatkannya informasi
tentang gambaran area kerja Pabrik produksi air minum.
b. Didapatkannya informasi
tentang sumber panas pada Pabrik produksi air minum.
c. Didapatkannya informasi
tentang pelaksanaan pengukuran panas ditempat kerja pada produksi air minum.
d. Diketahuinya dampak
paparan panas bagian produksi air minum.
e. Diketahuinya tindakan pengendalian
terhadap terjadinya paparan panasyang sudah dilakukan pada bagian produksi.
BAB II
PENGAMATAN PRODUKSI
A. Lokasi / Unit kerja
PT Sinar Sosro dan Coca
Cola Amatil Indonesia
Alamat
: Jl Raya Ungaran-Solo
Kecamatan
: Bergas
Kabupaten
: Semarang
Karakteristik bangunan tempat kerja :
Industri pengolahan
minuman (kantor, tempat produksi, tempat penyimpanan / gudang, tempat
pengolahan limbah padat dan cair ). Dari tempat tersebut merupakan tempat yang
tertutup.
B. Kelompok Pekerja
Di PT Sinar Sosro jumlah pekerja mencapai kurang lebih 900 orang, sedangkan
di Coca Cola Amatil Indonesia jumlah pekerja mencapai kurang lebih orang.
C. Keselamatan Kerja
Perusahaan memberikan APD berupa: Masker, sepatu boot, sarung tangan,
kacamata, ear pluge. Namun sebagian dari tenaga kerja ada yang tidak
menggunakan APD tersebut karena mereka beranggapan jika APD tersebut digunakan
justru akan mengganggu proses produksi yang berjalan dan pekerja merasa tidak
nyaman ketika memakai APD. (Contoh : Masker membuat para tenaga kerja merasa
kesulitan untuk bernafas, bahan yang digunakan untuk membuat Ear pluge tersebut
tidak nyaman digunakan pada telinga karena terlalu keras).
D. Gizi Kerja
Perusahaan menyediakan makanan dan minuman bagi tenaga kerja untuk
perbaikan status gizi para pekerja.
E. Identifikasi Kebisingan
1. Intensitas
Panas : -
2. Frekuensi Panas
: -
3. Lama paparan
: 8 jam
F. Jenis Potensi Bahaya
Potensi terjadinya kecelakaan akibat kerja karena tenaga kerja tidak
memakai APD, gangguan pendengaran, kelelahan pada mata, miliaria.
G. Pengontrolan Alat
Dilakukan pengontrolan alat secara rutin
agar tidak terjadi kerusakan alat.
H. Tahapan Proses
Produksi
1. Pengumpulan Botol
kosong
2. Pensortiran Botol yang
tidak layak pakai (misal ada botol yang cacat)
3. Pencucian dan
sterilisasi Botol
4. Pengisian, pensortiran
isi Botol dan penutupan Botol
5. Pemasukan Botol di
dalam krat (cratter) dan kemudian di distribusikan
Proses produksi pada PT Sinar Sosro dan Coca Cola Amatil Indonesia setiap
hari dimulai pada pukul 08.00 pagi sampai dengan 16.00 sore (shift pertama),
jam 16.00 sore sampai dengan jam 24.00 malam (shift kedua), dan jam 24.00
sampai dengan jam 08.00 pagi (shift ketiga). Dan istirahat tenaga kerja pada
shift pertama pukul 12.00-13.00, pada shift kedua pukul 20.00-21.00 dan
pada shift ketiga puku l04.00-0500.
BAB III
PERMASALAHAN
Masalah kesehatan yang dialami pekerja pada bagian produksi pada Coca Cola
Amatil Indonesia adalah panas pada mesin pencucian botol dan juga di dukung
oleh ruangan yang panas karena fentilasi udara yang kurang. Jarak yang dekat
dengan sumber panas seperti pada mesin pencucian, menyebabkan tenaga kerja
memiliki kemungkinan untuk kontak dengan sumber panas.
Sedangkan pada PT Sinar Sosro tingkat kepanasan pada ruang produksi
mencapai 40°C dan sumber panasnya
juga sama halnya pada CCAI. Hal ini menyebabkan
pasien terkena ruam akibat panas.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Iklim Kerja
1. Pengertian Iklim Kerja
Iklim kerja adalah hasil panduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan
udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga
kerja sebagai akibat dari pekerjanya (Manaker, 1999).
Iklim kerja adalah kombinasi dari suhu udara, kelembabab udara, kecepatan
gerakan dan suhu radiasi. Kombinasi dari keempat faktor ini dihubungkan dengan
produksi panas oleh tubuh yang disebut tekanan panas (Ramdan 2007). Iklim kerja
adalah suatu kombinasi dari suhu kerja, kelembaban udara, kecepatan gerakan
udara dan suhu radiasi pada suatu tempat kerja.
Cuaca kerja yang tidak nyaman, tidak sesuai dengan syaratyang ditentukan dapat
menurunkan kapasitas kerja yang berakiba tmenurunnya efisiensi dan
produktivitas kerja. Suhu udara dianggap nikmat bagi orang Indonesia ialah
berkisar 24oC sampai 26oC dan selisih suhu didalam dan
diluar tidak boleh lebih dari 5oC. Batas kecepatan angin secara
kasar yaiyu 0,25 sampai 0,5 m/dtk (Subaris,2007).
2. Macam Iklim Kerja
Kemajuan teknologi dan proses produksi di dalam industri telah menimbulkan
suatu lingkungan kerja yang mempunyai iklim atau cuaca tertentu yang dapat
berupa iklim kerja panas dan iklim kerja dingin.
a. Iklim Kerja Panas
Iklim kerja panas merupakan meteorologi dari lingkungan kerja yang dapat
disebabkan oleh gerakan angin, kelembaban, suhu udara, suhu radiasi dan sinar
matahari (Budiono, 2008).
Panas sebenarnya merupakan energi kinetik gerak molekul yang secara terus
menerus dihasilkan dalam tubuh sebagai hasil sampng dari metebolisme dan panas
tubuh yang dikeluarkan ke lingkungan sekitar. Agar tetap seimbang
antara pengeluaran dan pembentukan panas panas maka tubuh mengadakan usaha
pertukaran panas dari tubuh ke lingkungan sekitar melalui kulit dengan cara
konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi (Suma’mur 1996), yaitu :
1) Konduksi, merupakan pertukaran diantara tubuh dan benda-bendasekitar dengan
melalui sentuhan atau kontak. Konduksi akan menghilangkan panas dari tubuh
apabila benda-benda sekitar lebih dingin suhunya, dan akan menambah
panas kepada tubuh apabila benda-benda sekitar lebih panas dari tubuh manusia.
2) Konveksi, adalah petukaran panas dari badan dengan lingkungan
melaluikontak udara dengan tubuh. Pada proses ini pembuangan panas terbawaoleh
udara sekitar tubuh.
3) Radiasi, merupakan tenaga dari gelombang elektromagnetik denganpanjang
gelombang lebih panjang dari sinar matahari.
4) Evaporasi, adalah keringat yang keluar melalui kulit akan cepatmenguap bila
udara diluar badan kering dan terdapat aliran anginsehingga terjadi pelepasan
panas dipermukan kulit, maka cepat terjadipenguapan yang akhirnya suhu badan
bisa menurun.
Lingkungan kerja panas
dapat diklasifikasikan menjadi sebagai berikut:
1) Lingkungan panas lembab
ditandai dengan temperatur bola kering yang tinggi disertai tekanan uap
air yang tinggi.
2) Lingkungan panas kering
ditandai dengan temperatur bola keringmencapai 40oC disertai beban
panas radiasi tinggi.Terdapat beberapa contoh tempat kerja dengan iklim kerja
panas diantaranya :
a) Proses produksi yang
menggunakan panas, misalnya peleburan,pengeringan, pemanasan.
b) Pekerjaan yang langsung
terkena sinar matahari, misalnya pekerjaan jalanraya, bongkar muat, nelayan,
petani.
c) Tempat kerja dengan
ventilasi udara kurang.
Efek terhadap Kesehatan, efek panas terhadap kesehatan dipengaruhi oleh
usia, jenis kelamin,obesitas, keseimbangan air dan elektrolit, serta kebugaran.
Ada 2 cara tubuh untuk menghasilkan panas yang terdiri dari panas metabolisme
dimana tubuh menghasilkan panas pada saat mencerna makanan, bekerja dan
latihan, kemudianpanas lingkungan dimana tubuh menyerap panas dari lingkungan
sekeliling,berupa panas matahari atau panas ruangan.
Apabila tubuh terpapar cuaca kerja panas, secara fisiologis tubuh
akanberusaha menghadapinya dengan maksimal, dan bila usaha tersebut tidak
berhasil akan timbul efek yang membahayakan. Karena kegagalan tubuh
dalammenyesuaikan dengan lingkungan panas maka timbul keluhan-keluhan
sepertikelelahan, ruam panas,heat cramps, heat exhaustion,dan heat stroke, yang
dapatdijelaskan sebagai berikut :
a) Ruam panas (prickly
heat)
Dapat terjadi
dilingkungan panas, lembab dimanakeringat tidak dapat dengan mudah menguap dari
kulit. Keadaan ini dapatmengakibatkan ruam yang dalam beberapa kasus
menyebabkan rasa sakityang hebat. Prosedur untuk mencegah atau memperkecil
kondisi ini adalahberistirahat berulang kali ditempat yang dingin
dan mandi secara teratur untuk memastikan dengan seksama kekeringan
pada kulit.
b) Kelelahan
Orang bekerja maksimal
40 jam/minggu atau 8 jam sehari. Setelah4 jam kerja seseorang harus istirahat,
karena terjadi penurunan kadar guladalam darah. Tenaga kerja akan merasa cepat
lelah karena pengaruhlingkungan kerja yang tidak nyaman akibat tekanan panas.
Cara yang terbaik mengatasi kondisi ini dengan memindahkan pasien ketempat
dingin,memberikan kompres dingin, kaki dimiringkan keatas dan diberi
banyak minum.
c) Heat cramps
Dapat terjadi sebagai
akibat bertambahnya keringat yangmenyebabkan hilangnya garam natrium dari dalam
tubuh, sehingga bisamenyebabkan kejang otot, lemah dan pingsan.Kondisi ini
biasanya melebihidari kelelahan karena panas. Kondisi ini dapat
diobati melalui meminumcairan yang mengandung elektrolit seperti calcium,
sodium and potassium.
d) Heat exhaustion
Biasanya terjadi karena
cuaca yang sangat panas terutama bagi mereka yang belum beradaptasi tehadap
udara panas. Penderita biasanya keluar keringat banyak tetapi suhu badan normal
atau subnormal, tekanandarah menurun, denyut nadi lebih cepat.
e) Heat stroke
Terjadi karena pengaruh
suhu panas yang sangat hebat, sehinggasuhu badan naik, kulit kering dan panas
(AM Sugeng Budiono, 2003: 37).Kondisi ini harus diatasi melalui mendinginkan
tubuh korban dengan air ataumenyelimutinya dengan kain basah. Segera mencari
pertolongan medis.
Tingkat kerja cenderung mengatur sendiri, yakni pekerja akan secara
volunter menurunkan tingkat pekerjanaya bila dia merasakan panas berlebihan,
kecuali pemadaman kebakaran dan pekerjaan penyelamatan, karena tekanan
psikologi akan mengatasi kondisi normal.
Faktor luar seperti kadar kelembaban dan angin akan mempengaruhi tekanan
pakaian terhadap aliran panas. Pakaian yang lembab akan mempunyai tekanan yang
lebih rendah. Kecepatan aliran udara yang lebih tinggi akan cenderung
mengempiskan pakaian, mengurangi ketebalannya juga. Sementara pada pakaian yang
teranyam terbuka, angin dapat mengilangkan lapisan udara hangat yang ada
didalam. Kecuali jika dipergunakan sebagai pelindung bahaya kimia atau bahaya
lainnya. Isolasi perorangan cenderung mengatur sendiri, orang menambah atau
membuang lapisan pakaian sesuai dengan perasaan kenyamanannya. Lama pemajanan
dapat beragam sesuai dengan jadwal kerja atau istirahat, lebih baik dengan masa
istirahat yang diambil dalamlingkungan yang kurang ekstrem (Harrington, 2005).
Orang-orang Indonesia pada umumnya beraklimatisasi dengan iklim tropis yang
suhunya sekitar 29-30oC dengan kelembaban sekitar 85-95%. Aklimitasi
terhadap panas berarti suatu proses penyesuaian yang terjadi pada seseorang
selama seminggu pertama berada di tempat panas, sehingga setelah itu ia mampu
bekerja tanpa pengaruh tekanan panas.
b. Iklim Kerja Dingin
Pengaruh suhu dingin dapat mengurangi effisiensi dengan keluhan kaku atau
kurangnay koordinasi otot. Sedangkan pengaruh suhu ruangan sanagt rendah
terhadap kesehatan dapat mengakibatkan penyakit yang terkenal yang disebut
dengan Chilblains, trench foot, dan frosbite. Pencegahan terhadap gangguan
kesehatan akibat iklim kerja suhu dingin dilakukan melalui seleksi pekerja yang
“fit” dan penggunaan pakaian pelindung yang baik. Disamping itu, pemeriksaan
kesehatn perlu juga dilakukan secara periodic (Budiono, 2008).
Terdapat beberapa contoh tempat kerja dengan iklim kerja dingindiantaranya
di pabrik es, kamar pendingin, laboratorium, ruang computer
danlain-lain.Masalah kesehatan yang berhubungan dengan iklim dingin,
yaitu :
1) Chilblains
Bagian tubuh yang terkena membengkak, merah,panas dan sakit diselingi
gatal. Penyakit ini diderita akibat bekerjaditempat dingin dengan waktu lama
dan akibat defisiensi besi.
2) Trench foot
Kerusakan anggota badan terutama kaki akibatkelembaban atau dingin walau
suhu diatas titik beku. Stadium inidiikuti tingkat hyperthermis yaitu kaki
membengkak, merah, dansakit. Penyakit ini berakibat cacat semetara.
3) Frosbite :
Akibat suhu rendah dibawah titik beku, kondisi samaseperti trenchfoot namun
stadium akhir penyakit Frosbite adalah gangrene dan bisa berakibat cacat tetap.
3. Penilaian Tekanan Panas
Tekanan panas dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang
selanjutnya dapat digolongkan dalam :
a. Climatic faktor : suhu
udara, humidity, radiasi, kecepatan gerak udara.
b. Non climatic faktor:
panas, metabolisme, pakaian kerja dantingkat aklimatisasi (Subaris, 2007).
Untuk menyederhanakan pengertian maka beberapa ahli memciptakan suatu
indeks menerut fungsinya, sebagai berikut :
a. Suhu efektif yaitu
indeks sensoris dari tingkat panas yang dialami oleh seseorang tanpa baju dan
kerja ringan dalam berbagai kombinasi suhu, kelembaban dan kecepatan aliran
udara.
b. Cara ini mempunyai
kelembaban yaitu tidak memperhitungkan panas radiasi dan panas metebolisme
tubuh sendiri.
c. Indeks suhu basah dan
bola (Wet Bulp-Globe Temperature Index) dengan rumus untuk pekerjaan yang
mengalami kontak dengan sianar matahari: ISBB = (0,7 x suhu basah) + (0,2
x suhu radiasi) + (0,1 x suhu kering).
d. Sedangkan untuk
pekerjaan yang tidak kontak dengan sinar matahari digunakan rumusan sebagai
berikut : ISBB = (0,7 x suhu basah) + (0,3 x suhu radiasi)
e. Indeks kecepatan
pengeluaran keringat selama 4 jam, sebagai akibat dari kombinasi suhu,
kelembaban dan kecepatan gerakan udara serta panas radiasi. Dapat juga
dikoreksi denganpakaian dan tingkat kegiatan pekerjaan.
f. Inderks Balding-Hatch
yaitu pengukuran tekanan panas dengan menghubungkan kemampuan berkeringat dari
orang standar yaitu orang yang masih muda dengan tinggi 170 cm dan berat 154
pond, kondisi sehat, kesegaran jasmani baik serta beraklimatisasi terhadap panas.
Metode ini mendasarkan indeknya atas perbandingan banyaknya keringat yang
diperlukan untuk mengimbangi panas dan kapasitas maksimal tubuh untuk
berkeringat. Untuk menentukan indeks tersebut diperlukan pengukuran suhu kering
dan basah, suhu globethermometer, kecepatan aliran udara dan produksi
panasakibat kegiatan kerja (Ramdan, 2007).
4. Pengukuran Iklim Kerja
Alat yang dapat digunakan adalah Arsmann psychrometer untuk mengukur suhu basah, temometer kata untuk mengukur
kecepatan udara dan termometer bola untuk mengukur suhu radiasi. Selain
itupengukuran iklim kerja dapat menggunakan “Questemp” yaitu suatu alat
digital untuk mengukur tekanan panas dengan parameter Indek Suhu. Bola
Basah (ISBB). Alat ini dapat mengukur suhu basah, suhu kering dan suhu radiasi.
Pengukuran tekanan panas di lingkungankerja dilakukan dengan meletakkan
alat pada ketinggian 1,2 m (3,3kaki) bagi tenaga kerja yang berdiri dan 0,6 m
(2 kaki) bila tenaga kerja duduk dalam melakukan pekerjaan. Pada saat
pengukuran reservoir (tandaon) termometer suhu basah diisi dengan
aquadest dan waktu adaptasi alat 10 menit (Tim Hiperkes, 2006).
Tabel ISBB dan Jadwal
kerja istirahat.
|
Waktu kerja
|
Waktu istirahat
|
Ringan
|
Berat
|
Bekerja terus menerus
|
|
Bekerja terus-menerus (8jam/hari)
|
-
|
30,0
|
26,7
|
25
|
|
75% pekerja
|
25% istirahat
|
30,6
|
28
|
25,9
|
|
50% pekerja
|
50% istirahat
|
31,4
|
29,4
|
27,9
|
|
25% pekerja
|
75% istirahat
|
32,2
|
31,1
|
30,0
|
Catatan :
a. Beban kerja ringan
membutuhkan kaloiri 100-200 kilo kalori /jam.
b. Beban kerja sedang
membutuhkan kalori > 200-350 kilo kalori/ jam.
c. Beban kerja berat
membutuhkan kalori > 350-500 kilo kalori /jam (Harington, 2005).
Misalnya : pada WBGT suhu 30oC, seseorang dapat melakukan
pekerjaan ringan terus menerus, tetapi bila sudah menyangkut pekerjaan berat,
dia hanya dapat bekerja selama 25% saja dari setiap jam kerjanya. (Harington,
2005).
5. Identifikasi Potensi
Bahaya
Paparan yang diterima seorang tenaga kerja diyang telah
diobservasi pada kunjungan lapangan AAC Indonesia dan PT Sinar Sosro,
berupa faktor fisik, kimia, biologi dan psikologi. Observasi kali ini mengamati
faktorfisik sebagai salah satu potensi bahaya. Faktor fisik diantaranya adalah
panas atau iklim kerja.Potensi bahaya yang berhubungan dengan iklim
kerja adalah panas membantu dalam pengaturan ventilasi. Atap ruangan yang
terbuat dari seng danpanas yang dihasilkan dari mesin juga menambah iklim panas
dalam ruangan.
Selain itu, terdapat pula kipas angin yang diletakkan di dekat tenaga
kerjayang terpapar langsung oleh panas, namun jumlahnya hanya sedikit
dandiletakkan sedikit jauh dari tenaga kerja. Hal ini kurang efektif untuk
mengurangi panas ruangan. Pihak perusahaan juga telah memasang general exhauster di divisicor yang
dimaksudkan untuk mengalirkan udara panas dari hasil peleburan danpengecoran,
namun hal ini dirasakan kurang efektif karena proses peleburan danpengecoran
menghasilkan suhu yang terlalu tinggi sehingga ruangan masih terasapanas.
6. Pengendalian
Administratif
Pengendalian administratif berupa aklimatisasi tidak dilakukan pada
ruangan kerja yang memiliki ISBB melebihi NAB. Hal ini disebabkan belum adanya
kebijakan dari perusahaan tentang aklimatisasi.Air minum telah disediakan oleh
pihak perusahaan di divisi tempa untuk memudahkan para pekerja mengambil
air minum dan mencegah dehidrasi selama mereka bekerja. Namun letak yang jauh,
jumlah yang masih kurang, dan tidak adanya waktu untuk mengambil air minum
menyebabkan keengganan para tenagakerja untuk minum ketika mereka mengerjakan
pekerjaannya. Pada divisi cortidak disediakan air minum, sehingga tenaga kerja
yang ingin minum harus keluarruangan kerja terlebih dahulu.
Pada perusahaan ini juga terdapat pengaturan waktu kerja dan
istirahat.Khusus untuk divisi cor pada bagian peleburan dan pengecoran,
para tenaga kerjahanya diperbolehkan 30 menit terapapar sumber panas,
setelah 30 menit tenagakerja boleh keluar atau beristirahat, namun waktunya
tidak ditentukan
7. Pengendalian
Administratif
Dapat dijelaskan bahwa pengendalian administratif berupa aklimatisasi
tidak dilakukan pada ruangan kerja yang memiliki ISBB melebihi NAB. Hal ini
disebabkan belum adanya kebijakan dari perusahaantentang aklimatisasi.Air minum
telah disediakan oleh pihak perusahaan di divisi tempa untuk memudahkan
para pekerja mengambil air minum dan mencegah dehidrasi selamamereka bekerja.
Namun letak yang jauh, jumlah yang masih kurang, dan tidak adanya waktu
untuk mengambil air minum menyebabkan keengganan para tenagakerja untuk minum
ketika mereka mengerjakan pekerjaannya.
Pada perusahaan ini juga terdapat pengaturan waktu kerja dan
istirahat.Khusus untuk divisi cor pada bagian peleburan dan pengecoran,
para tenaga kerjahanya diperbolehkan 30 menit terapapar sumber panas,
setelah 30 menit tenaga kerja boleh keluar atau beristirahat, namun waktunya
tidak ditentukan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Gambaran iklim kerja di lingkungan industri pada PT Sinar Sosro dan Coca
Cola Amatil Indonesia melebihi NAB,sedangkan pada divisi cor bagian
peleburan ISBB melebihi batas NAB denganpengukuran ISBB selaman sepuluh menit
sebanyak satu kali pengukuran.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pekerja, permasalahan iklim kerja
yangterdapat pada PT Sinar Sosro dan Coca Cola Amatil Indonesia adalah
ruam panas dan kelelahan karenapanas.
Pengendalian yang dilakukan untuk mengatasi masalah iklim kerja diPT. Sinar
Sosro dan Coca Cola Amatil Indonesia adalah dengan pengendalian teknis,
dan APD, namun pada pelaksanaannya belum tercapai seluruhnya.
B. Saran
Pelaksanaan pengendalian secara paripurna untuk mencegah masalah
kesehatanyang terjadi pada para pekerja yang bekerja di lingkungan iklim panas
karenatidak optimalnya hal-hal sebagai berikut :
1. Isolasi sumber panas
2. Local exhaust
3. Optimalisasi
aklimatisasi
4. Pengaturan waktu kerja
dan istirahat setiap jam
5. Penggunaan APD berupa
pakaian khusus,sarung tangan, dan sepatu baja.
Perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan khusus untuk masalah iklim kerja
yangterdapat pada PT Sinar Sosro dan Coca Cola Amatil Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar