~Awal ku mengenalnya~
Pertama kali ku mengenalnya masih
berusaha ku kais dalam ingatan. Sebuah Ingatan tentangnya dalam deretan kisah
indah yang kumiliki dalam hidupku yang sunyi. Dua tahun lalu ku awali kisah
rasaku saat ku mulai mengenalnya. Semuanya berawal dari persahabatan meski
semuanya mungkin tak akan lebih. Ku tak
sadari apa yang terjadi, hanya terasa berbeda tentangnya. Bahkan terkadang ku
masih tak mengerti arti rasa ini. Rasa yang hanya kumiliki, mungkin dia tak
rasakan. Rasa yang kuharap kan membuatku selalu seperti ini, bahagia dan
bersemangat. Entah mengapa hanya memikirkan tentangnya ku bisa tersenyum, ku
bisa mengharap, dan seringkali ku khayalkan hal yang indah tentangku dengannya.
Semua hanya sebatas harap dan khayalan namun telah memberikan berjuta percikan
kebahagian dan semangat dalam diriku.
~Dia~
Dia yang sempurna bagiku apapun yang
dia miliki atau tak dia miliki. Dia yang lebih dari seorang idola dan lebih
dari seorang superhero yang kusukai saat kecil, dia yang telah membuatku jatuh
cinta. Cinta yang mungkin benar benar cinta pertama, atau mungkin hanya rasa
yang berusaha menipuku.
Dia sahabatku, mungkin itulah yang
kuanggap selama ini. Meski ku tak yakin dia beranggapan hal yang sama. Dia
orang pertama yang kupercaya seutuhnya, bahkan sebelum ku benar benar
mengenalnya. Dia yang berbeda sejak awal ku mengenalnya. sebuah perbedaan
secara harfiah denganku namun kami adalah sama dalam suatu hal yang tak biasa.
Kami terlalu berbeda, setidaknya itulah yang kurasa pada awalnya. Perbedaan
yang cukup membuatku bosan untuk mengenalnya lebih jauh, namun yang terjadi
adalah sebaliknya. Meski kami terlalu berbeda, tetap kupaksakan diri ini tuk
mengenalnya, dan memahami perbedaan kami. Ku hanya ingin menjadi temannya.
Hanya itu yang membuatku menerjang semua perbedaan kami yang terlalu banyak.
Kumulai merubah cara bicara, tingkah dan apapun agar dia nyaman denganku.
Semuanya terasa sulit karena dia adalah orang yang kaku, dan ku masih tak
mengenalnya. hal yang kulakukan hanya membuatku tampak bodoh tapi ku tak perduli.
Masih teringat saat kami berbicara, bahkan dia tak mengerti apa yang
kubicarakan. Kuingin buatnya tertawa tapi pada akhirnya aku hanya seperti orang
konyol yang mati kutu didepannya. Hahaha ku selalu tersenyum jika mengingat
saat saat itu.
Apapun yang dia miliki selalu
membuatku kagum, bahkan sebelum kumiliki rasa yang sesungguhnya. Dia yang
berbakat, dia yang indah dan sempurna dimataku. Ku selalu memberikan
perhatianku kepadanya. Perhatian secara nyata saat ku suka melihatnya. Ku tahu
apa yang dia lakukan saat sendiri, apa yang dia bicarakan bersama orang lain,
bahkan dengan siapa dia dekat. Kuanggap semua itu hanya rasa ingin tahuku
sebagai seorang teman biasa. entahlah apa yang kurasakan saat itu, saat ku jodohkan dia dengan orang lain. Hahaha Kurasa
aku ikut senang saat itu. Dia terlihat lucu sekaligus kesal dan malu saat
kusuruh nembak seseorang. Akupun ikut tertawa tanpa menyadari semua hanya
alihan bentuk perhatianku padanya sejak awal. Semua kenangan itu masih teringat
jelas dan menggambarkan lukisan indah yang kan kubuka setiap saat.
~ketika ku lebih mengenalnya~
Kisahku belum berakhir begitu saja.
Bisa terbayangkan betapa senangnya yang kurasakan saat tuhan mempercayakanku
bersamanya lebih lama lagi. Semuanya semakin indah terasa saat dia lebih dekat.
Kami menjadi sangat dekat sejak setahun berteman. Dia yang kupercaya dengan
segala resah dan keluhan hati yang mencari tempat tuk menerimanya. Karena ku
tak bisa menyimpan semua hal dalam hidupku yang sepi ini sendiri. Ku percayakan
kepadanya selayaknya kuberikan setiap rahasiaku pada sahabat2ku dulu. Banyak
hal kuingin dia mengetahuinya kecuali satu hal yang masih kusimpan. Mungkin hal
lain yang kusuka darinya adalah sikapnya yang dulu itu. sikap yang peduli dan
dekat denganku yang sangat kuharapkan masih ada meski sedikit. Sekarang semuanya telah berbeda. Ketika aku
yang berbeda dengannya, ku kan berusaha berubah menjadi seorang yang membuatnya
nyaman. Tapi berbeda ketika dia yang berusaha berubah dan menghindar dariku.
Mungkin semua karena salahku. Sifat egois yang mengharapkan dia lebih dekat,
namun kenyataan membuatnya semakin jauh.
Rasaku semakin jelas tergambar dalam buramnya
kenyataan. Kenyataan yang tak ingin kujalani sebenarnya. Mengapa ku
menyukainya, kenapa aku tertakdirkan seperti ini. Saat itu ku hanya menyukainya
dengan mata tertutup tanpa meminta tuk berbalas. Dia yang begitu sempurna
bagiku, kupikir dia tak akan sama sepertiku. Banyak yang menyukainya, kusadari
itu. Jika dia ingin, pasti dengan mudahnya dia dapatkan siapapun. Ku hanya
termainkan perasaan yang samar dan kosong, ada namun hanya sebatas rasa yang
tak mungkin berbalas. Ku semakin menyukainya dan ingin selalu dekat dengannya.
Namun perasaan ini telah menjauhkanku dengannya. Dia semakin berubah. Perubahan
yang tak lebih baik untuku. Dia lebih pendiam kepadaku namun tidak kepada orang
lain. Terkadang kucemburu teramat dalam sampai tak ingin kulihat wajahnya saat
dia bersama orang lain. Pernah suatu saat ku marah, kesal, dan ingin kulepaskan
semua sakitku kepada entah siapa, meski semua hanya berakhir dengan kupendam
sendiri sakit itu. Benar benar rasa sakit tepat di dada yang baru pertama kali
kurasakan. Semuanya karena rasaku padanya. Ku tak bisa mengatasi kecemburuan
yang teramat dalam saat dia bisa lebih hangat pada seseorang namun ku hanya
menjadi patung yang bisu diantara mereka. Ku tak suka sikapnya, namun ku tak
mampu membantah. Hanya tersimpan rasa dongkol yang kuselimuti dengan sikapku
yang diam. Memang tidak ada hak bagiku melarangnya dengan siapapun, dan apapun
yang ia lakukan. Tapi hanya ingin meminta sedikit saja apa yang bisa ia berikan
kepada orang lain. Jika kuingat saat itu, ku hanya duduk terdiam, bingung dan
bodoh melihat mereka tertawa, bercanda didepanku. Entahlah, rasa ini baik atau
buruk. Aku mudah hancur karenanya, namun segera bangkit dengan sedikit kata
manis darinya. Sejujurnya kusyukuri kupunyai rasa ini sampai saat ini. Rasa yang
membuatku merasa hidup dengan harapan dan sejuta khayalan indah.
Ku menyukainya sampai saat ini.
Kuharapkan dia seperti yang dulu yang lebih hangat padaku. Memang semuanya
telah berbeda. Dulu dia hangat sebagai teman, namun ketika ku meminta lebih
dari itu, kurasa aku yang tak tahu diri. Pada akhirnya dia menjauh dan kusesali
semua tindakanku. Semua terjadi saat ku lebih mengenalnya. sebuah kenyataan
yang tak sengaja kuketahui atau memang takdir yang mengarahkanku. Kenyataan yang
membuatku terkejut namun juga membuatku senang. Ketika ku mengenalnya lebih dari selama ini.
Ku sadar masih banyak hal yang belum ku ketahui darinya, aku terlalu percaya
diri bahwa akulah yang paling mengenalnya. Sekarang ku yakin aku mengenalnya
lebih dari siapapun, setidaknya dalam suatu hal. Semuanya seolah merubah
imajinasi yang indah selama itu kumiliki menjadi sebuah kenyataan yang menunggu
terungkapkan padanya.
Saat itu masih kuingat, sebuah
kesempatan yang tuhan berikan padaku. Aku masih tak percayainya, sebuah
kenyataan yang tak mudah kupercaya namun aku bingung dan tak terpungkiri ku
sangat bahagia. Dadaku berdegup kencang, aku seperti orang yang bersalah
mengetahui rahasianya yang sebenarnya tak mungkin ia tunjukan padaku. Semuanya
membuatku bingung. Di satu sisi ku sesali kelancanganku, disisi lain ku
bersyukur karenanya. Mungkinkah tuhan mendengarkanku selama ini, mendengarkan
perasaanku yang salah. Atau semuanya hanya sebuah kebetulan yang hanya lewat
didepanku yang kuketahui tanpa bisa menyapanya. Bertemu dengannya setelah
kuketahui rahasianya membuatku salah tingkah dan terlihat bodoh namun masih
bisa kututupi semuanya. Meski dalam hati ini ingin ungkapkan ribuan pertanyaan
dan juga ingin kuungkapkan suatu hal.
Aku tak bisa dengan mudahnya
melupakan semuanya. Ku merasa bersalah sebagai sahabatnya, namun ku juga ingin
ungkapkan suatu hal. Ku ingin dia juga mengetahui rahasiaku. Ku ingin dia tahu
kalau kupunya rahasia yang sama. Kuputuskan ungkapkan semuanya saat waktu yang
tepat. Namun ku terlalu takut dan bingung meski tak ku ingat berapa banyak
rangkaian kata yang kusiapkan untuk hal itu. Akhirnya suatu saat ku beranikan
diri ungkapkan apa yang kuketahui tentangnya, namun tak semuanya. Ku hanya bisa
ungkapkan ku telah ketahui tentangnya meski tak kujelaskan apa yang kuketahui.
Ku tahu kebingungan dan kemarahannya saat itu, saat seorang teman yang
ungkapkan rahasia yang ia curi namun tak ungkapkan apa yang telah ia curi. Dia
seolah terperangkap dalam ketakutan dan dugaan yang tetap tak membuatnya
tenang. Ku memang sengaja tak ungkapkan semuanya. Aku ingin dialah yang
berusaha mencari tahu dariku secara langsung, Meski nyatanya tak ia lakukan.
Dia memilih diam tak peduli seolah semuanya tak pernah terjadi. Ku tak
bermaksud membuatnya bingung dan takut dengan sikapku. Dibalik itu semua, ku
ingin ungkapkan satu hal. Aku juga punya rahasia yang sama dengannya, untuk itu
kupastikan rahasianya kan kujaga selamanya.
Pernah ku ingin ungkapkan secara
langsung namun semuanya gagal. Sudah ku siapkan semuanya, kurangkai kata,
kusiapkan keberanian terbesarku, dan hampir saja ku akan mengungkapkan
semuanya. Tuhan tak membuatnya mengalir begitu saja. Semuanya gagal karena dia
tak ingin menemuiku. Aku kecewa namun ku juga lega. Sebuah keputusan yang bodoh
kupikir jika ku terlalu terburu buru. Akan ku ungkapkan semuanya suatu saat
sampai ku benar benar siap dengan segala apa yang akan terjadi saat itu.
Setelah saat itu, kurasakan dia mulai
berubah. Entah apa yang ia rasakan. Mungkin dia marah, mungkin juga dia takut
padaku. Atau memang mungkin karena dia tak lagi merasa cocok lagi denganku.
Semua hanya sebatas duga dan kebingungan yang ada dikepalaku. Dia mulai
terlihat menjauh. Ku tak bisa lagi dekat dengannya meski hanya duduk sebangku.
Terkadang ku ingin duduk disampingnya saat tak ada siapa pun disampingnya,
namun ku juga takut. Ku takut dia enggan dan terpaksa menerimaku disisinya.
Kami semakin jauh, bahkan tak lagi kudapati pesannya yang membuatku dulu selalu
tersenyum. Terkadang kuingin tahu apa yang ia lakukan, maka ku ketik banyak kata
dalam pesanku, namun memang tak seperti dulu. Saat kudapatkan balasannya yang
hanya berisikan beberapa kata yang membuatku bingung untuk melanjutkannya.
Akhirnya pesanku terhenti tanpa berpikir tuk meminta balasan lainnya.
Kulewati masa akhirku bersamanya
dengan kesepian. Dulu dia yang hangat dan bisa kuandalkan dalam setiap
kesendirianku, semuanya berakhir karena kebodohanku. Kini tak lagi kudapatkan
sapaan hangatnya, senyumannya yang indah, dan perhatiannya saat ku membutuhkannya.
Meski selalu ada harap dia kan kembali seperti dulu dengan kenyataan yang tak
berubah bahwa kami saling mengenal lebih saat ini. Memang benar, itulah saat
terakhir ku bisa lebih dekat dengannya. Kami harus berpisah meski tak jauh.
Sekarang ku tak bisa menyapanya setiap hari, mencuri tatapan kepadanya saat ia
tak melihatku, dan melihat senyuman tipisnya yang membuat sisi hati ini tenang.
Meski masih sering ku melihatnya, tapi semuanya tak lagi seperti dulu.
Setiap kesempatan ku bisa bertemu
dengannya tak pernah kusia siakan. Dia yang saat ini banyak berubah secara
nyata, semakin indah dan akan selalu indah dimataku apapun yang terjadi
padanya. Kusukai dia apa adanya bahkan sebelum dia menjadi yang sekarang.
Terkadang ku bayangkan seandainya dia juga punya rasa yang sama. Tapi mungkin
aku yang terlalu naif, terlalu bodoh memikirkannya. Kami terlalu berbeda bahkan
secara nyata. Dia yang sempurna, dan aku yang tak kan mungkin mengimbanginya.
Aku hanya membuatnya malu dengan segala yang kupunya. Apapun yang ia punya
selalu membuatku kagum, bakatnya, hobinya, dan dirinya. Sedangkan apa yang
kupunya, apa yang kukagumi dari diriku. Namun aku tersadar, kukagumi dirinya
bukan karena apa yang ia punya, tapi karena sesuatu yang kupunyai yaitu cinta.
Seminggu bukan waktu yang lama, namun
saat ku nantikan saat bertemu dengannya, waktu seolah melambat dan tak ingin
berjalan lagi. Saat kutulis semua ini adalah saat ku kesepian seperti biasanya.
Namun tak pernah sesepi ini saat dulu dia masih dekat denganku. Setiap kali ku
butukannya, kan kuketik pesan dengan harap ia kan menghilangkan rasa sepiku.
Namun sekarang, kuhanya bisa bayangkan wajahnya, tak berani ku kirimkan pesan
sekedar menanyakan kabarnya karena semua akan terasa konyol dan bodoh. Tak ada
alasan lagi ku bisa menyapanya. Kuhanya berharap semuanya kan indah suatu saat
nanti, entah memang kan ada saat itu. tapi kuyakinkan perasaan ini kan ada
sampai kapanpun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar