Jumat, 03 Mei 2013

Tentang Dia


~Awal ku mengenalnya~
Pertama kali ku mengenalnya masih berusaha ku kais dalam ingatan. Sebuah Ingatan tentangnya dalam deretan kisah indah yang kumiliki dalam hidupku yang sunyi. Dua tahun lalu ku awali kisah rasaku saat ku mulai mengenalnya. Semuanya berawal dari persahabatan meski semuanya mungkin tak akan lebih.  Ku tak sadari apa yang terjadi, hanya terasa berbeda tentangnya. Bahkan terkadang ku masih tak mengerti arti rasa ini. Rasa yang hanya kumiliki, mungkin dia tak rasakan. Rasa yang kuharap kan membuatku selalu seperti ini, bahagia dan bersemangat. Entah mengapa hanya memikirkan tentangnya ku bisa tersenyum, ku bisa mengharap, dan seringkali ku khayalkan hal yang indah tentangku dengannya. Semua hanya sebatas harap dan khayalan namun telah memberikan berjuta percikan kebahagian dan semangat dalam diriku.
~Dia~
Dia yang sempurna bagiku apapun yang dia miliki atau tak dia miliki. Dia yang lebih dari seorang idola dan lebih dari seorang superhero yang kusukai saat kecil, dia yang telah membuatku jatuh cinta. Cinta yang mungkin benar benar cinta pertama, atau mungkin hanya rasa yang berusaha menipuku.
Dia sahabatku, mungkin itulah yang kuanggap selama ini. Meski ku tak yakin dia beranggapan hal yang sama. Dia orang pertama yang kupercaya seutuhnya, bahkan sebelum ku benar benar mengenalnya. Dia yang berbeda sejak awal ku mengenalnya. sebuah perbedaan secara harfiah denganku namun kami adalah sama dalam suatu hal yang tak biasa. Kami terlalu berbeda, setidaknya itulah yang kurasa pada awalnya. Perbedaan yang cukup membuatku bosan untuk mengenalnya lebih jauh, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Meski kami terlalu berbeda, tetap kupaksakan diri ini tuk mengenalnya, dan memahami perbedaan kami. Ku hanya ingin menjadi temannya. Hanya itu yang membuatku menerjang semua perbedaan kami yang terlalu banyak. Kumulai merubah cara bicara, tingkah dan apapun agar dia nyaman denganku. Semuanya terasa sulit karena dia adalah orang yang kaku, dan ku masih tak mengenalnya. hal yang kulakukan hanya membuatku tampak bodoh tapi ku tak perduli. Masih teringat saat kami berbicara, bahkan dia tak mengerti apa yang kubicarakan. Kuingin buatnya tertawa tapi pada akhirnya aku hanya seperti orang konyol yang mati kutu didepannya. Hahaha ku selalu tersenyum jika mengingat saat saat itu.
Apapun yang dia miliki selalu membuatku kagum, bahkan sebelum kumiliki rasa yang sesungguhnya. Dia yang berbakat, dia yang indah dan sempurna dimataku. Ku selalu memberikan perhatianku kepadanya. Perhatian secara nyata saat ku suka melihatnya. Ku tahu apa yang dia lakukan saat sendiri, apa yang dia bicarakan bersama orang lain, bahkan dengan siapa dia dekat. Kuanggap semua itu hanya rasa ingin tahuku sebagai seorang teman biasa. entahlah apa yang kurasakan saat itu, saat  ku jodohkan dia dengan orang lain. Hahaha Kurasa aku ikut senang saat itu. Dia terlihat lucu sekaligus kesal dan malu saat kusuruh nembak seseorang. Akupun ikut tertawa tanpa menyadari semua hanya alihan bentuk perhatianku padanya sejak awal. Semua kenangan itu masih teringat jelas dan menggambarkan lukisan indah yang kan kubuka setiap saat.
~ketika ku lebih mengenalnya~
Kisahku belum berakhir begitu saja. Bisa terbayangkan betapa senangnya yang kurasakan saat tuhan mempercayakanku bersamanya lebih lama lagi. Semuanya semakin indah terasa saat dia lebih dekat. Kami menjadi sangat dekat sejak setahun berteman. Dia yang kupercaya dengan segala resah dan keluhan hati yang mencari tempat tuk menerimanya. Karena ku tak bisa menyimpan semua hal dalam hidupku yang sepi ini sendiri. Ku percayakan kepadanya selayaknya kuberikan setiap rahasiaku pada sahabat2ku dulu. Banyak hal kuingin dia mengetahuinya kecuali satu hal yang masih kusimpan. Mungkin hal lain yang kusuka darinya adalah sikapnya yang dulu itu. sikap yang peduli dan dekat denganku yang sangat kuharapkan masih ada meski sedikit.  Sekarang semuanya telah berbeda. Ketika aku yang berbeda dengannya, ku kan berusaha berubah menjadi seorang yang membuatnya nyaman. Tapi berbeda ketika dia yang berusaha berubah dan menghindar dariku. Mungkin semua karena salahku. Sifat egois yang mengharapkan dia lebih dekat, namun kenyataan membuatnya semakin jauh.
Rasaku semakin jelas tergambar dalam buramnya kenyataan. Kenyataan yang tak ingin kujalani sebenarnya. Mengapa ku menyukainya, kenapa aku tertakdirkan seperti ini. Saat itu ku hanya menyukainya dengan mata tertutup tanpa meminta tuk berbalas. Dia yang begitu sempurna bagiku, kupikir dia tak akan sama sepertiku. Banyak yang menyukainya, kusadari itu. Jika dia ingin, pasti dengan mudahnya dia dapatkan siapapun. Ku hanya termainkan perasaan yang samar dan kosong, ada namun hanya sebatas rasa yang tak mungkin berbalas. Ku semakin menyukainya dan ingin selalu dekat dengannya. Namun perasaan ini telah menjauhkanku dengannya. Dia semakin berubah. Perubahan yang tak lebih baik untuku. Dia lebih pendiam kepadaku namun tidak kepada orang lain. Terkadang kucemburu teramat dalam sampai tak ingin kulihat wajahnya saat dia bersama orang lain. Pernah suatu saat ku marah, kesal, dan ingin kulepaskan semua sakitku kepada entah siapa, meski semua hanya berakhir dengan kupendam sendiri sakit itu. Benar benar rasa sakit tepat di dada yang baru pertama kali kurasakan. Semuanya karena rasaku padanya. Ku tak bisa mengatasi kecemburuan yang teramat dalam saat dia bisa lebih hangat pada seseorang namun ku hanya menjadi patung yang bisu diantara mereka. Ku tak suka sikapnya, namun ku tak mampu membantah. Hanya tersimpan rasa dongkol yang kuselimuti dengan sikapku yang diam. Memang tidak ada hak bagiku melarangnya dengan siapapun, dan apapun yang ia lakukan. Tapi hanya ingin meminta sedikit saja apa yang bisa ia berikan kepada orang lain. Jika kuingat saat itu, ku hanya duduk terdiam, bingung dan bodoh melihat mereka tertawa, bercanda didepanku. Entahlah, rasa ini baik atau buruk. Aku mudah hancur karenanya, namun segera bangkit dengan sedikit kata manis darinya. Sejujurnya kusyukuri kupunyai rasa ini sampai saat ini. Rasa yang membuatku merasa hidup dengan harapan dan sejuta khayalan indah.
Ku menyukainya sampai saat ini. Kuharapkan dia seperti yang dulu yang lebih hangat padaku. Memang semuanya telah berbeda. Dulu dia hangat sebagai teman, namun ketika ku meminta lebih dari itu, kurasa aku yang tak tahu diri. Pada akhirnya dia menjauh dan kusesali semua tindakanku. Semua terjadi saat ku lebih mengenalnya. sebuah kenyataan yang tak sengaja kuketahui atau memang takdir yang mengarahkanku. Kenyataan yang membuatku terkejut namun juga membuatku senang.  Ketika ku mengenalnya lebih dari selama ini. Ku sadar masih banyak hal yang belum ku ketahui darinya, aku terlalu percaya diri bahwa akulah yang paling mengenalnya. Sekarang ku yakin aku mengenalnya lebih dari siapapun, setidaknya dalam suatu hal. Semuanya seolah merubah imajinasi yang indah selama itu kumiliki menjadi sebuah kenyataan yang menunggu terungkapkan padanya.
Saat itu masih kuingat, sebuah kesempatan yang tuhan berikan padaku. Aku masih tak percayainya, sebuah kenyataan yang tak mudah kupercaya namun aku bingung dan tak terpungkiri ku sangat bahagia. Dadaku berdegup kencang, aku seperti orang yang bersalah mengetahui rahasianya yang sebenarnya tak mungkin ia tunjukan padaku. Semuanya membuatku bingung. Di satu sisi ku sesali kelancanganku, disisi lain ku bersyukur karenanya. Mungkinkah tuhan mendengarkanku selama ini, mendengarkan perasaanku yang salah. Atau semuanya hanya sebuah kebetulan yang hanya lewat didepanku yang kuketahui tanpa bisa menyapanya. Bertemu dengannya setelah kuketahui rahasianya membuatku salah tingkah dan terlihat bodoh namun masih bisa kututupi semuanya. Meski dalam hati ini ingin ungkapkan ribuan pertanyaan dan juga ingin kuungkapkan suatu hal.
Aku tak bisa dengan mudahnya melupakan semuanya. Ku merasa bersalah sebagai sahabatnya, namun ku juga ingin ungkapkan suatu hal. Ku ingin dia juga mengetahui rahasiaku. Ku ingin dia tahu kalau kupunya rahasia yang sama. Kuputuskan ungkapkan semuanya saat waktu yang tepat. Namun ku terlalu takut dan bingung meski tak ku ingat berapa banyak rangkaian kata yang kusiapkan untuk hal itu. Akhirnya suatu saat ku beranikan diri ungkapkan apa yang kuketahui tentangnya, namun tak semuanya. Ku hanya bisa ungkapkan ku telah ketahui tentangnya meski tak kujelaskan apa yang kuketahui. Ku tahu kebingungan dan kemarahannya saat itu, saat seorang teman yang ungkapkan rahasia yang ia curi namun tak ungkapkan apa yang telah ia curi. Dia seolah terperangkap dalam ketakutan dan dugaan yang tetap tak membuatnya tenang. Ku memang sengaja tak ungkapkan semuanya. Aku ingin dialah yang berusaha mencari tahu dariku secara langsung, Meski nyatanya tak ia lakukan. Dia memilih diam tak peduli seolah semuanya tak pernah terjadi. Ku tak bermaksud membuatnya bingung dan takut dengan sikapku. Dibalik itu semua, ku ingin ungkapkan satu hal. Aku juga punya rahasia yang sama dengannya, untuk itu kupastikan rahasianya kan kujaga selamanya.
Pernah ku ingin ungkapkan secara langsung namun semuanya gagal. Sudah ku siapkan semuanya, kurangkai kata, kusiapkan keberanian terbesarku, dan hampir saja ku akan mengungkapkan semuanya. Tuhan tak membuatnya mengalir begitu saja. Semuanya gagal karena dia tak ingin menemuiku. Aku kecewa namun ku juga lega. Sebuah keputusan yang bodoh kupikir jika ku terlalu terburu buru. Akan ku ungkapkan semuanya suatu saat sampai ku benar benar siap dengan segala apa yang akan terjadi saat itu.
Setelah saat itu, kurasakan dia mulai berubah. Entah apa yang ia rasakan. Mungkin dia marah, mungkin juga dia takut padaku. Atau memang mungkin karena dia tak lagi merasa cocok lagi denganku. Semua hanya sebatas duga dan kebingungan yang ada dikepalaku. Dia mulai terlihat menjauh. Ku tak bisa lagi dekat dengannya meski hanya duduk sebangku. Terkadang ku ingin duduk disampingnya saat tak ada siapa pun disampingnya, namun ku juga takut. Ku takut dia enggan dan terpaksa menerimaku disisinya. Kami semakin jauh, bahkan tak lagi kudapati pesannya yang membuatku dulu selalu tersenyum. Terkadang kuingin tahu apa yang ia lakukan, maka ku ketik banyak kata dalam pesanku, namun memang tak seperti dulu. Saat kudapatkan balasannya yang hanya berisikan beberapa kata yang membuatku bingung untuk melanjutkannya. Akhirnya pesanku terhenti tanpa berpikir tuk meminta balasan lainnya.
Kulewati masa akhirku bersamanya dengan kesepian. Dulu dia yang hangat dan bisa kuandalkan dalam setiap kesendirianku, semuanya berakhir karena kebodohanku. Kini tak lagi kudapatkan sapaan hangatnya, senyumannya yang indah, dan perhatiannya saat ku membutuhkannya. Meski selalu ada harap dia kan kembali seperti dulu dengan kenyataan yang tak berubah bahwa kami saling mengenal lebih saat ini. Memang benar, itulah saat terakhir ku bisa lebih dekat dengannya. Kami harus berpisah meski tak jauh. Sekarang ku tak bisa menyapanya setiap hari, mencuri tatapan kepadanya saat ia tak melihatku, dan melihat senyuman tipisnya yang membuat sisi hati ini tenang. Meski masih sering ku melihatnya, tapi semuanya tak lagi seperti dulu.
Setiap kesempatan ku bisa bertemu dengannya tak pernah kusia siakan. Dia yang saat ini banyak berubah secara nyata, semakin indah dan akan selalu indah dimataku apapun yang terjadi padanya. Kusukai dia apa adanya bahkan sebelum dia menjadi yang sekarang. Terkadang ku bayangkan seandainya dia juga punya rasa yang sama. Tapi mungkin aku yang terlalu naif, terlalu bodoh memikirkannya. Kami terlalu berbeda bahkan secara nyata. Dia yang sempurna, dan aku yang tak kan mungkin mengimbanginya. Aku hanya membuatnya malu dengan segala yang kupunya. Apapun yang ia punya selalu membuatku kagum, bakatnya, hobinya, dan dirinya. Sedangkan apa yang kupunya, apa yang kukagumi dari diriku. Namun aku tersadar, kukagumi dirinya bukan karena apa yang ia punya, tapi karena sesuatu yang kupunyai yaitu cinta.
Seminggu bukan waktu yang lama, namun saat ku nantikan saat bertemu dengannya, waktu seolah melambat dan tak ingin berjalan lagi. Saat kutulis semua ini adalah saat ku kesepian seperti biasanya. Namun tak pernah sesepi ini saat dulu dia masih dekat denganku. Setiap kali ku butukannya, kan kuketik pesan dengan harap ia kan menghilangkan rasa sepiku. Namun sekarang, kuhanya bisa bayangkan wajahnya, tak berani ku kirimkan pesan sekedar menanyakan kabarnya karena semua akan terasa konyol dan bodoh. Tak ada alasan lagi ku bisa menyapanya. Kuhanya berharap semuanya kan indah suatu saat nanti, entah memang kan ada saat itu. tapi kuyakinkan perasaan ini kan ada sampai kapanpun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar